Senin, 27 Desember 2010

wisma intan #2

Minggu, 3 Oktober 2010.
Hari ini saya bangun dan benar-benar berniat mencari uang untuk sesuap nasi. Hah! Bersama teman-teman kos, yaitu Tikul, Cece, Boi, Ateu, dan saya semalam mengumpulkan baju-baju bekas layak pakai kami untuk dijual kembali di daerah Sempur. Setelah melakukan penyortiran, baju-baju disusun berdasarkan harga, dan menahan kantuk setengah hidup tapi tak bisa tidur karena rasa lapar yang lambat-lambat naik ke pusat sadar saya, kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk menabung tenaga dan suara.
Hari ini, saya sih tidak bangun kesiangan. Malahan saya menyempatkan diri untuk mandi. Yah, karena semalamnya saya tidak sempat mandi atas anjuran si Pacar. Saya bangunkan personil-personil cantik ini dari tidur kebonya. Bangun untuk sholat subuh, membuka jendela guna menyambut malaikat Israfil yang membagikan rezeki dari Allah untuk kami. Ujung-ujungnya, kami pun kesiangan berangkat dari kos Wisma Intan ini. Perkiraan semula, kami berangkat setelah sholat subuh. Memang benar, kami semua berangkat setelah sholat subuh, lebih tepatnya sejam setelah sholat subuh. Alhasil, kami pun telat untuk datang berebut tempat untuk menggelar lapak.
Diawali dengan wajah-wajah yang sempat ditekuk tiga tujuh sebelas akibat kendaraan yang kami naiki menuju lapangan Sempur, tapi apa daya? Pesona kami satu sama lain begitu hebatnya sehingga saat melihat teman pun kami masih bisa tertawa. Alhamdulillah. Saat lapak digelar, barang dijajakan, alih-alih kami datang kesiangan, seorang ibu separuh baya datang melihat dan menawar barang dagangan kami. Hal yang menarik pun dimulai. Ibu yang tak kami ketahui namanya ini, sepakat kami sebut dengan nama Ibu Petuah. Mengapa demikian? Karena Ibu Petuah ini ketika melihat barang dagangan kami, dia akan berkata:
“Ya ampun, masih bagus begini, mending dipake ajaa, ngapain juga dijual?”
“Ini pasti dari orang tua kamu kan? Kok dijual sih? Sayang kan? Mending disimpen aja tuh.”
Kami pun menjawab asal-asalan:
“Yah Bu, buat biaya hidup Bu, Demi sesuap nasi yang tak lagi kami mampu membelinya.”
Atau
“Kasian nih Bu temen saya, udah hampir diusr dari kos gara-gara gak bayar kos 2 bulan Bu.”
Eh, si Ibu Petuah malah menjawab:
“Jangan mengurang-ngurangi apa yang udah ada loh. Gak boleh kayak begitu.”
Tiba-tiba aja, entah mengapa ucapannya seperti berbunyi “Jlebbh!” bagi kami berlima.
Tak lagi kami bisa berkata apa-apa selain:
“Ehe,, iya ya Bu ya?” dengan senyum-senyum miris yang tak lagi bisa kami sembunyikan.

Ketika Ibu Petuah itu pergi sebentar untuk mengambil uangnya, kami lantas saling melempar pandang, beristighfar, lalu mengucap hamdalah. Kemudian hingga selesai kami berjualan demi sesuap nasi pun, kata-kata itu terus kami ulang di saat salah satu dari kami mulai mengucapkan kata-kata yang mengecilkan nikmat Allah yang sebegitu besarnya. Subhanallah.
Alhamdulillah ya Rabb. Disaat seperti ini pun Engkau masih mengingatkan kami akan nikmatMu yang melimpah ruah. Mengajarkan kami agar tidak tamak, tidak selalu melihat ke atas, dan menjaga lisan kami dengan sebaik-baiknya. Betapa Engkau mencintai kami ya Allah. Dan kami pun mencintaiMu, dengan cinta yang terus bertambah dari hari ke hari. Walaupun cinta kami tak mampu menyaingi cintaMu yang sejati, izinkanlah kami mencintaiMu dengan segala apa yang Engkau berikan pada kami ya Allah. Mohon kuatkan, pelihara hidayah ini, nikmat yang tak sanggup ditukar dengan apapun di dunia ini. Maafkan segala khilaf kami ya Allah, maafkan segala tutur kata, keluhan, sikap kami yang tak baik padaMu. Jangan biarkan kami menjadi pengkhianat cintaMu ya Allah. Semoga apa yang kami lakukan hari ini dapat meraih ridhoMu selalu dan bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Amin ya Rabb, Tuhanku yang Maha Keren.
Kami pun kembali ke kos dengan perasaan yang ringan, tenang, lega. Entahlah. Kata macam apapun tak bisa mewakili apa yang teman-teman dan saya rasakan. Saya puas. Saya bisa menikmati hasil jerih payah ini dengan teman-teman. Saya dan Cece lantas ke dapur untuk memasak makan siang dari hasil berjualan baju bekas kami. Menu siang ini adalah sayur asem dan oncom goreng. Sungguh, saya tidak melebih-lebihkannya, tetapi saya benar-benar senang, lega, dan bisa makan dengan tenang. Alhamdulillah. Saya masih bisa makan siang dengan baik padahal di luar sana masih banyak saudara-saudara saya yang untuk besok pun belum tentu menyantap makanan seperti saya.
Hari ini saya benar-benar diajarkan langsung oleh Allah tentang betapa pentingnya bersyukur untuk nikmatNya yang selalu diberikan pada saya. Saya jadi merasa malu pada diri saya sendiri. Malu akan tindakan saya selama 4 tahun ini yang benar-benar menghamburkan uang tanpa merasa bersalah. Benar-benar suatu kesia-siaan. Astaghfirullah. Sekarang saya harus lebih cermat, tekun, sabar, dan mampu melihat betapa banyaknya kasih sayang Allah dalam keadaan tersulit sekalipun. Ya, Allah ada selalu untuk saya. Saya percaya itu. Allah tidak pernah meninggalkan saya. Tidak pernah tidak mendengarkan saya. Saya tahu itu. Saya yakin itu. Bismillah.
“Dan nikmat Allah mana yang kamu dustakan?”
-Si Manisnya Allah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar